KEKUASAAN DAN KESOMBONGAN

- Penulis

Kamis, 11 Desember 2025 - 22:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ahmad Basri : | Kamis.11.12.2025.     Ketua Kajian Kritis Kebijakan Publik Pembangunan / K3PP

Hati-hati karrlau sedang berkuasa jangan sombong. Nasehat ini sederhana, tetapi sulit dipraktekkan oleh mereka yang sedang memegang kendali kekuasaan.

Kekuasaan seperti api, memberi terang ketika digunakan dengan benar, tetapi membakar pemiliknya ketika disalahgunakan.

ADVERTISEMENT

Donasi

SCROLL TO RESUME CONTENT

Banyak pejabat gagal memahami batas tipis ini. Alih-alih mengendalikan kekuasaan, justru mereka yang dikendalikan oleh kekuasaan.

Kesombongan adalah penyakit laten dalam ruang kekuasaan. Dalam ajaran agama, Iblis dimurkai bukan karena kurang cerdas atau kurang ibadah, tetapi karena kesombongannya.

Dalam politik modern, kesombongan hadir dalam rupa paling halus, merasa paling benar, anti kritik, dan melihat jabatan sebagai hak istimewa pribadi, bukan sebuah amanah.

Baca Juga :  Pendidikan Tanpa Hati Nurani: Resep Menuju Kehancuran Peradaban

Dalam hukum administrasi negara, kekuasaan memiliki batas. Masa jabatan dibatasi, kewenangan dibatasi, anggaran juga dibatasi. Kekuasaan memang ada aturannya, namun nafsu berkuasa tidak pernah mengenal batas.

Tidak sedikit pejabat yang ketika pensiun seharusnya menikmati masa tua bersama keluarga, cucu, dan kedamaian batin namun justru berpindah dari ruang yang ber-AC ke ruang tahanan yang dingin dan berbau lembab.

Dari kasur empuk ke alas tikar penjara. Dari hormat ajudan ke tatapan dingin sipir penjara. Nasib tragis bukan terjadi tiba-tiba ini adalah akumulasi kesombongan, pembiaran, dan penyalahgunaan kewenangan dimasa lalu.

Baca Juga :  REFLEKTIF HUKUM DARURAT PERANG: PENDARATAN PESAWAT TEMPUR DI JALAN TOL

Pada dasarnya kekuasaan jabatan memang memiliki kecenderungan alami untuk menyimpang. Mendorong pemiliknya merasa lebih tinggi dari rakyat yang memberinya mandat. Memberi ilusi bahwa semuanya bisa diatur, dimanipulasi, dan dibeli.

Lord Acton, sejarawan dan filsuf politik Inggris, telah mengingatkan sejak abad 19 bahwa “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”

Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula potensi penyimpangannya. Semakin absolut kekuasaan, semakin absolut pula kerusakan yang akan ditimbulkannya.

Maka, siapa pun yang sedang berkuasa hari ini ingatlah, jabatan itu sementara, tetapi akibat kesombongan bisa abadi. Jabatan itu titipan, tetapi hukuman adalah kepastian.

Follow WhatsApp Channel indonesiatarget.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

REFLEKTIF HUKUM DARURAT PERANG: PENDARATAN PESAWAT TEMPUR DI JALAN TOL
Pendidikan Tanpa Hati Nurani: Resep Menuju Kehancuran Peradaban
Berita ini 29 kali dibaca
Hati-hati kalau sedang berkuasa jangan sombong. Nasehat ini sederhana, tetapi sulit dipraktekkan oleh mereka yang sedang memegang kendali kekuasaan.

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 06:36 WIB

REFLEKTIF HUKUM DARURAT PERANG: PENDARATAN PESAWAT TEMPUR DI JALAN TOL

Kamis, 11 Desember 2025 - 22:08 WIB

KEKUASAAN DAN KESOMBONGAN

Rabu, 10 Desember 2025 - 05:53 WIB

Pendidikan Tanpa Hati Nurani: Resep Menuju Kehancuran Peradaban

Berita Terbaru